Latest Entries »

Inspirasi sering datang seperti gelombang kejut litrik beribu volt, dan tiba-tiba menghilang secepat debu yang terhembus angin senja. Dia mengambang rapuh seperti buih di tepian sungai namun kadang masif sepadat batu rubi. Inspirasi bagaikan daun kering yang berceceran dimana-mana, walaupun hakikatnya hanya ditemukan dalam perenungan seorang pemikir.

Blog ini saya tuliskan sebagai ucapan terima kasih pada dunia yang telah memberi banyak inspirasi pada saya. Dengan berkunjung ke blog ini saya harapkan Anda mendapatkan sesuatu dan membagikannya kepada rekan-rekan tercinta Anda. Demikian sambung bertaut, sebagai rantai yang lestari.

Wahyu T. Setyobudi
Kepala Divisi Riset – PPM Manajemen

Pindah WEBSITE

Dear Rekan-rekan Pengunjung, Mulai Tanggal 1 april 2010 saya pindah blog ini ke

www.inspirewhy.com

Hal ini tentu saja untuk menyegarkan tampilan blog dan mengembangkannya untuk berbagai kebutuhan.
Senang sekali jika dapat berdiskusi dengan rekan-rekan di rumah baru itu, sampai jumpa dan semoga sukses selalu…🙂

Salam Hangat,
Wahyu T. Setyobudi

Hari ini adalah jadwal saya berkunjung ke dokter gigi, dan saya datang ke rumah sakit langganan saya di daerah Kelapa Gading Jakarta. Suasana di rumah sakit ini ramai sekali. berbeda dengan hari senin biasanya, hari ini adalah hari senin kejepit yang mengawali liburan hari raya nyepi. Harusnya antrian pasien lebih lengang dan saya tidak seharusnya mengelilingi lahan parkiran 3 kali sebelum mendapat slot sempit d sebelah lubang got.

Ada yang berbeda dengan kedatangan saya kali ini. Saya melihat beberapa terminal komputer dengan touch screen nampang dengan gagahnya di depan meja pendaftaran pasien. Setelah saya tanyakan mesin tersebut memang sudah beberapa waktu dipasang di sana. Ada kurang lebih 4 terminal terpasang berjejer menanti pengguna. Yang menarik adalah, selama hampir setengah jam saya menunggu di depan ruang dokter, antrian panjang tetap terjadi di depan pendaftaran manual. Rupanya pasien baru masih enggan menggunakan mesin baru ini.

View full article »

Apa yang Anda rasakan pada saat bercerita kepada teman, kerabat atau famili Anda mengenai suatu kejadian sukses di kantor? Tentu perasaan yang menyenangkan dan penuh gairah bukan? Sebaliknya apa yang kita rasakan jika bercerita mengenai kondisi bisnis yang semakin ketat, harga barang yang naik, kesulitan supplier, sistem kenaikan karir yang amburadul dan insentif yang tidak sesuai prestasi? Pasti sangat menyedihkan. Herannya banyak diantara kita yang lebih memilih untuk bercerita tentang masalah di pojokan pantry daripada melakukan eksplorasi untuk menggali sisi positif dari organisasi kita.

Inilah bedanya pendekatan masalah (problem approach) dengan pendekatan Appreciative Inquiry (AI). Pendekatan masalah akan membawa kita pada sikap mental yang lebih cenderung melemahkan. Walaupun Kotter (1999) berargumentasi bahwa perubahan hanya terjadi jika ada sense of urgency dari masalah yang timbul, namun Robbins (2001) mengatakan bahwa perubahan perilaku jauh lebih cepat bila dilakukan melalui positive reinforcement.

View full article »

Istilah Appreciative Inquiry (AI) menjadi pembicaraan populer di dunia bisnis Indonesia pada tahun-tahun terakhir ini. Istilah ini menurut saya memang pantas menjadi buah bibir karena sifatnya yang mendobrak paradigma lama pemecahan masalah yang biasanya berbasis pada penyimpangan antara kondisi nyata dan kondisi sempurna menjadi lebih berbau positif, yaitu mendorong tindakan dengan berbasis pada positif attitude.

Peter Drukker pernah mengungkapkan prinsip yang dicuplik oleh banyak buku “The task of organizational leadership is to create an allignment of strength in ways that make a system’s weaknessess irrelevant”. Dalam posisi saya sebagai consultant dan pengajar, sering sekali saya melihat perusahaan hanya berfokus pada kelemahan diri sendiri dan justru melupakan kekuatan yang ada. Bahkan ada juga perusahaan yang mengalami “inferior syndrom” selalu merasa kecil dan lemah. Appreciative Inquiries menawarkan suatu teknik yang lain untuk keluar dari paradigma lama ini.

View full article »

Diantara Anda pastilah ada yang pernah membangun atau merenovasi rumahnya. Bagaimanakah Anda melakukan proses itu? Ya, tentu saja mulai dari ide, kemudian merancang rumah seperti apa yang hendak dibangun, menuangkannya dalam bentuk gambar. Proses setelah itu adalah hitung-menghitung biaya di sana-sini, kekuatan bangunan dan lain-lain, kemudian barulah pekerjaan fisiknya dimulai.

Walaupun agak merepotkan, namun pekerjaan di-atas meja atau urusan rancang-merancang biasanya memakan waktu yang sedikit lebih lama. Proses rancangan yang sama juga terdapat pada perancangan produk barang seperti mobil, sepatu, komputer, dan lain-lain. Mengapa? Tentu agar produk barang  yang dihasilkan dapat sesuai dengan yang diharapkan, dan kesulitan-kesulitan yang muncul dapat diantisipasi sebelumnya. Jika untuk suatu produk barang yang dapat dilihat, dapat dirasa dan mudah dibayangkan saja, orang mau berpayah-payah membuat suatu rancangan, bukankah untuk suatu produk yang bersifat jasa rancangan serupa harusnya menjadi lebih penting.

View full article »

Ada masa dalam hidup saya dimana saya sangat mengagumi Gabriel Batistuta. Ya, Pemain sepakbola berambut gondrong asal Argentina yang merumput untuk Klub Fiorentina. Sepanjang ingatan saya, klub ini jarang memperoleh ranking yang baik di Serie A Liga Italia. Terlepas dari prestasi klubnya yang kurang menonjol, bahkan beberapa kali terperosok ke zona degradasi, saya melihat Batistuta sebagai figur yang karismatik. Aksinya ketika meliuk mengecoh pemain belakang lawan, serta tendangan-tendangan kanon-nya sering membuat saya terpana di depan layar TV. Mengenai kekaguman ini, saya tidak sendirian. Di kota Florence, Batistuta dipuja bagai dewa, sehingga kabarnya masyarakat membuat patungnya didirikan megah di pusat kota.

View full article »

Saya pernah selama beberapa jam mengamati sebuah apotik besar dan termasuk yang tertua di Jakarta, dimana pengunjung luar biasa ramainya. Anda mesti memiliki ketrampilan menyetir yang di atas rata-rata agar bisa mendapatkan tempat parkir yang memang biasanya tidak pernah sepi dan hanya bersisa pas untuk satu mobil. Anda juga mesti memiliki tubuh yang ramping atletis bila ingin keluar dari pintunya yang menempel ke pintu mobil yang bersebelahan. Belum termasuk parkir motornya. Di ruang tunggu yang tidak begitu besar, pengunjung rela berdesak-desakan. Bahkan karena tempat duduk tidak mencukupi, sebagian tidak keberatan berdiri. Apotik yang terletak di daerah Rawamangun ini menarik perhatian saya semenjak pertama kali saya datang kesana. View full article »

Asyik juga rasanya nongkrong di depan sebuah toko, duduk di atas krat bekas teh botol sambil menikmati bala-bala dan ubi yang baru digoreng. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk merasakan  pengalaman yang sederhana namun dalam maknanya ini. Duduk lebih rendah dari rata-rata eye level seseorang membuat anda dengan mudah hilang diantara hiruk pikuk pejalan kaki di sore hari, yang masing-masing memiliki kesibukan sendiri. Seorang ibu setengah baya tampak menggandeng anaknya yang berumur 5 tahun tampak ragu-ragu menyeberang jalanan jakarta yang terkenal ruwet. Perhatikan ekspresinya. Anda akan menemukan perpaduan antara cemas, takut, dan naluri perlindungan pada anaknya tersayang yang sangat asli, jauh lebih asli dari berbagai acara candid camera di televisi. Anda dapat pula memperhatikan beberapa package product yang menyembul dari plastik putih belanjaan orang-orang yang baru keluar dari departemen store atau supermarket. Pengamatan ini adalah pengamatan yang keluar tanpa pretensi.

View full article »

42003.jpg

Seorang pengajar senior Lembaga Manajemen PPM sekaligus rekan kerja yang saya kagumi, Ibu Kirti Peniwati, suatu saat pernah bertutur pada saya. beliau berkata “sikap mental yang paling dibutuhkan di era baru adalah kerelaan untuk menjadi obsolete“. Dengan rela menjadi obsolete, kita tidak berhenti menimba ilmu baru, mendengarkan berbagai suara dengan kehausan akan pemahaman dan inspirasi baru.

Blog ini ditulis untuk berbagi berbagai macam hal dalam dunia pemasaran, manajemen, serta motivasi dan kemanusiaan.